Halal Haram Bisnis Kontenporer
Oleh : Uswatun Hasanah
Dalam dunia mu’amalah hari ini bisnis berbasis kontenporer melejit
bagai roket yang siap untuk diluncurkan ke luar angkasa. Banyak pembisnis dunia pada umumnya
lebih tertarik pada model bisnis kontenporer yang lebih modern dan dapat memberikan keuntungan yang berlipat ganda.
Bisa jadi dari keuntungan biasa bila penulis persentasekan menjadi 50% hasil bersih, maka jika menggunakan
model bisnis kontenporer akan naik menjadi 70-80% hasil bersih.
Ini menunjukkan adanya peluang meningkatkan keuntungan yang amat pesat dari
keuntungan biasanya. Bagaimana tidak tertarik dengan model bisnis kontenporer,
jika peluang keuntungan sebuah bisnis bisa berlipat ganda.
Akan tetapi sangat disayangkan sebagaimana
kita ketahui, para pembisnis di sekitar kita kurang memperhatikan halal haram
yang ada didalam bisnis kontenporer hari
ini. Padahal apabila kita cermati lebih mendalam banyak darinya segelintir syubhat
yang bisa kita dapati didalam bisnis kontenporer ini. Oleh karenanya penulis
akan mencoba mengulas hal-hal yang berkaitan dengan halal haram bisnis
kontenporer, dengan rujukan buku halal haram dalam bisnis kontenporer karya
Dr. Sa’id Abdul Azhim.
Dalam artikel
ini penulis akan mengambil tiga tema yaitu: asuransi, jual beli organ tubuh
manusia, dan Pemerataan Harta Dan Tanah Dengan Dalih Memerangi Paham Kapitalis.
Buku ini diawali dengan pembahasan mengenai halal haram bisnis asuransi.
Dr. Sa’id Abdul Azhim mengatakan bahwa
asuransi dengan seluruh bentuknya adalah haram, baik asuransi jiwa; harta
benda; perdagangan; rumah (tanah); atau salah satu organ tubuh, seperti
tenggorokan, paha, maupun mata; baik asuransi terhadap kebakaran maupun
kecelakaan. Sebab semuanya mengandung riba, perjudian, gharar (ketidakjelasan).
Pendapat inilah yang dipegang oleh mayoritas ulama dimajelis al-majma’ul fiqhi
yang diadakan di mekah al-mukarramah. Juga, tertera dalam fatwa darul ifta’
al-mishriyah. Mereka mendasarkan hukum ini pada beberapa hal,dintaranya:
1. Akad asuransi
bisnis termasuk akad jual-beli yang bersifat spekulasi yang mengandung unsur
gharar (ketidakjelasan).
2. Akad asuransi
bisnis merupakan salah satu bentuk perjudian.
Allah ta’ala berkalam dalam surat al maidah ayat 90:
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ
وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُون
“Hai
orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban
untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji,
termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian
mendapat keberuntungan”.
3. Akad asuransi
bisnis mengandung unsur riba fadl dan riba nasi’ah.
4. Akad asuransi
bisnis termasuk taruhan yang diharamkan. Sebab, kedua belah pihak mengandung
unsur ketidakpastian, gharar, dan perjudian. Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam
telah membatasi keringanan taruhan harta pada tiga hal, sebagaimana yang
tertera dalam sabda beliau:
لا سبقَ الَّا فِي خُفِّ اَوْ نصْلٍ اوْ حافِرٍ
“
Tidak boleh bertaruh dalam perlombaan, kecuali dalam (lomba) adu cepat
menunggang unta, melempar tombak, dan pacuan kuda”.
5. Akad asuransi
bisnis mengandung unsur mengandung unsur mengambil harta orang lain tanpa
ganti.
6. Dalam akad
asuransi bisnis terdapat syarat yang tidak disyari’atkan.
Konsekwensi dibalik pendapat haramnya Asuransi
Seorang muslim tidak diperkenankan melakukan
transaksi seperti ini atas kemauan sendiri. Namun bila dipaksa ini adalah
sebuah keadaan darurat, maka ia tidak berdosa. Hasil
asuransi tidak termasuk dalam warisan senhingga tidak dapat dibagi diantara
ahli waris. Namun boleh mengambil jumlah yang dibayarkan saja dan dibagikannya
kepada ahli waris sesuai dengan bagian yang telah ditentukan oleh syari’at. Selebihnya
diinfakkan untuk kemaslahatan kaum muslimin dan tidak kita sisakan, kecuali
bila kebutuhannya termasuk salah satu dari kepentingan kaum muslimin tersebut,
seperti untuk membela agama atau menafkahi
keluarga yang wajib diberi nafkah.
Sedangkan bila seseorang berada dalam posisi yang sulit antara
asuransi dan kelangsungan hidup atau lainnya, maka hendaklah ia segera
bertaubat, istighfar, memperbanyak amal kebaikan yang dapat menghapus dosanya,
dan sebisa mungkin mengambil modal pokok yang ia bayarkan keperusahaan
asuransi.
Diperbolehkan Asuransi Sosial Sebagai
Alternatif Asuransi Bisnis
Majlisul Majama’ menetapkan kesepakatan
diperbolehkannya asuransi sosial sebagai alternatif asuransi bisnis yang
diharamkan. Hal ini selaras dengan ketetapan Majlis Hai’ah Kibarul Ulama,
kerajaan Saudi Arabia, berdasarkan dalil-dalil berikut ini:
1. Asuransi sosial
termasuk akad sedekah yang tujuannya menyalurkan bantuan (kepada yang tertimpa
musibah) dan ikut berpartisipasi menanggung beban saat terjadinya musibah.
2. Asuransi sosial
ini terbebas dari transaksi riba, baik riba fadl maupun riba nasi’ah.
3. Tidak mengapa
adanya unsur ketidaktahuan secara pasti orang yang ikut dalam asuransi ini
tentang keuntungan yang akan ia dapatkan.
4. Pihak-pihak
yang ikut serta dalam asuransi ini atau pihak-pihak yang semisal dengan mereka
dapat mengembangkan uang asuransi untuk mewujudkan tujuan utama dibentuknya
kerjasama tersebut, baik untuk tujuan sosial maupun untuk mendapatkan
keuntungan tertentu.
Hukum Menjual Darah Dan Organ Tubuh Manusia
Darah dan organ tubuh manusia tidak dapat
dihargai dengan harga tertentu. Seseorang pun tidak memiliki hak untuk menjual
organ tubuhnya. Namun, ia diperbolehkan memberikannya untuk mengharap pahala
semata dan dalam kondisi darurat. Majelis Al-Majma’ Al-Fiqhi berepndapat bahwa
dalil-dalil yang dipakai oleh kalangan yang membolehkan menggunakan organ tubuh
orang lain adalah pendapat yang paling kuat. Oleh karenanya, al-majma’ al-fiqhi
memutuskan beberapa hal berikut ini:
Pertama, bila salah satu organ tubuh seseorang
yang masih hidup diambil lalu dipakai oleh orang lain yan sangat membutuhkannya
untuk menyelamatkan nyawanya atau membantu memfungsikan organ pokok tubuhnya,
maka tindakan ini diperbolehkan dan tidak bertentangan dengan kemuliaan
manusiat terkait dengan pihak orang yang diambil organ tubuhnya. Hal ini juga
mengandung kemaslahatan yang besar dan memberikan kebaikan bagi orang yang
dibantu. Ini semua merupakan amalan yang disyari’atkan dan terpuji, bilamana
terpenuhi beberapa syarat berikut ini:
1. Pengambilan
organ tubuh tersebut tidak membahayakan pendonor yang dapat mengganggu
kelangasungan hidupnya secara normal.
2. Pemberian organ
tubuh tersebut dilakukan secara suka rela oleh pendonor, tanpa ada paksaan
apapun.
3. Penanaman organ
tubuh tersebut merupakan satu-satunya sarana kedokteran untuk mengobati orang
yang sakit atau dalam kondisi darurat.
4. Proses
pengambilan dan penanaman organ tersebut terbukti menuai keberhasilan, baik
secara adat maupun hukum umum.
Kedua, dinyatakan boleh secara syari’at bila
dilakukan dengan prioritas berikut ini:
1. Mengambil organ
tubuh mayit untuk menyelamatkan seseorang yang sangat membutuhkannya,dengan
syarat pihak yang diambil organnya telah masuk dalam usia mukallaf dan
telah mengizinkannya semasa hidupnya.
2. Secara mutlak,
diperbolehkan mengambil organ hewan yang halal dagingnya dan disembelih secara
syar’i. Atau, adanya sebuah keharusan menanam organ hewan tersebut kedalam
tubuh seseorang yang sangat membutuhkannya.
3. Mengambil sebagian
organ ubuh seseorang untuk ditanamkannya atau untuk menambal di tubuhnya
sendiri.
4. Memasang organ
buatan yang terbuat dari besi atau lainnya pada tubuh seseorang untuk
memulihkan kondisinya yang sakit.
Keempat kondisi ini diperbolehkan oleh Majelis
Al-Majma’ Al-Fiqhi ditinjau secara syari’at sesuai dengan syarat-syarat diatas.
Pemerataan Harta Dan Tanah Dengan Dalih
Memerangi Paham Kapitalis
Setiap muslim atas muslim yang lainnya haram
harta, darah, dan kehormatannya. Maka, harta seorang muslim tidak boleh diambil
tanpa kerelaannya dan harus ditempatkan pada yang berha. Oleh karenanya tidak
boleh saling mengincar harta orang lain,baik sedikit ataupun banyak. Para ulama
telah banyak membahas mengenai hal ini, yakni apakah dalam masalah harta apakah
ada hak lain selain zakat. Bagi yang berpendapat ada hal lain,maka mereka
mensyaratkan bilamana baitul mak kosong dari harta dan kaum muslimin sedang
mengalami musibah, seperti kelaparan dan peperangan. Kemudian, seorang pemimpin
tidak boleh mengambil lebih dari zakat, kecuali ia dan bala tentaranya
menyerahkan segala yang mereka punya dan menyisakan hewan tunggangan, senjata,
dan segala yang dibutuhkannya. Ini adalah pendapat imam nawawi, al-izz bin
abdus salam, abdullah bin farra’, dan lainnya. Pengecualian ini terkadang
terjadi.
Namun ada sebagian yang meninggalkan agama
mereka di belakang punggung mereka dan mengimpor tata aturan dan ideologis
sosial dari kalangan orang-orang komunis. Hasilnya mereka menguasai harta
rakyat dengan dalih memerangi sistem kapitalis. Mereka juga merampas tanah
dengan dalih memerangi kalangan borjuis. Namun, mereka telah menerjang aturan
al- qur’an dan as-sunnah, rasional, dan fitrah manusia. Allah ta’ala berfirman:
و الله فضل
بعضكم على بعض في الرزق ج.....71
"Dan allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang
lain dalam hal rezeki...”[ an nahl: 71]
Jalan untuk menolong orang-orang yang
terdholimi adalah dengan menegakkan syari’at Allah dan mengembalikan hak milik
kepada pemiliknya tanpa ada unsur kedhaliman atau melampaui batas. Kewajiban
kita adalah memulai dan segera mengembalikan harta dan tanah kepada pemiliknya.
Kita tidak cukup memberikan ganti rugi yang tak seberapa jumlahnya kepada
sebagian orang yang kita sebut sebagai kalangan borjuis dan berpaham kapitalis.
Jadi, kedzaliman adalah kegelapan. Hal tersebut tidak hanya haram bagi
individu, tapi juga haram bagi negara dan golongan. Wallahu a’lam bis showab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar